Bagi guru SMAN 2 Cianjur tiada hari tanpa berbakti pada negeri. Hari Selasa, 10 Juli 2018, pada saat libur, para guru melakukan kegiatan In House Training (IHT) yang mendorong para pendidik ini meningkatkan kompetensi profesionalnya demi terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya. IHT ini dibuka oleh wakil dari KCD wilayah VI dan diberikan arahan langsung oleh Kepala SMAN 2 Cianjur, Bapak Agam Suriyanta, M.M.Pd.

Melalui arahan, Pak Agam, panggilan akrab Kepala SMAN 2 Cianjur, menjelaskan bahwa sekolah rujukan adalah sekolah yang memiliki keunggulan. Untuk itu, SMAN 2 Cianjur yang ditunjuk sebagai sekolah rujukan harus menunjukkan keunggulan yang kelak menjadi rujukan sekolah lain. Selain itu, melalui kegiatan IHT kali ini, para guru diharapkan menghasilkan produk yang nantinya dapat menjadi rujukan sekolah lain, misalnya sekolah imbas. Produk yang dimaksud diantaranya dokumen silabus, rencana pengajaran, video pembelajaran, video belajar bersama serta budaya baru yang ditunjukkan sekolah.

IHT yang dimulai sejak pukul 07.00 dan berakhir pada pukul 16.30 diikuti secara antusias oleh para guru SMAN 2 Cianjur, juga oleh guru-guru yang berasal dari sekolah imbas. Terdapat lima sekolah imbas yang diharapkan membantu mempercepat terwujudnya sekolah yang memiliki profil di atas rata-rata. Materi pokok pada IHT ini adalah Analisis SKL, KI, KD, SIlabus dan RPP. Materi itu sendiri disajikan oleh salah satu Narasumber Nasional yaitu Badriah, M.Pd.

Pada materi Analisis, SKL, KI, dan KD penyaji secara gamblang menjelaskan bahwa membangun manusia Indonesia seutuhnya dicapai melalui pengembangan kemampuan dan pembentukan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Hal ini diamanatkan melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional.  Mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab menjadi pengusung ketercapaian tujuan pendidikan yang harus diwujudkan melalui pembelajaran.

Tujuan ini dicapai pula melalui jenjang pendidikan SD, SMP, SMA yang ditandai dengan dimensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Khusus untuk SMA, setiap dimensi memiliki kualifikasi kemampuan yang harus dikuasai oleh siswa SMA seperti yang ditunjukkan pada Permendikbud nomor 20 tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Profil siswa SMA dengan kualifikasi kemampuan yang ditetapkan pada peraturan tadi, tidak akan terwujud jika tidak jelas indikatornya. Oleh karenanya, dalam level kelas X, XI, dan XII, indikator penanda profil termaktub dalam kompetensi inti (KI).

KI menjadi acuan indikator yang harus dikuasai dalam tataran level kelas. Sedangkan secara spesifik, kompetensi ini dicapai secara bersama-sama melalui penguasaan kompetensi mata pelajaran. Setiap mata pelajaran memiliki komptensi dasar yang masing-masing saling mendukung untuk membantu para siswa menguasai pengetahuan dan keterampilan tertentu. Siswa yang kompeten adalah mereka yang menguasai pengetahuan dan keterampilan secara komprehensif dari seluruh mata pelajaran.

Sedangkan Silabus, merupakan dokumen yang dibuat oleh guru setelah melakukan analisis SKL, KI, dan KD. Pada Silabus, para guru dituntut secara kritis membuat indikator ketercapaian kompetensi (IPK). IPK inilah yang menjadi patokan untuk penetapan materi pokok, pembelajaran, dan penilaian. Pembuatan IPK yang linear dengan materi, pembelajaran dan penilaian menjadi penjamin bahwa KD akan tercapai. Melalui penyusunan silabus, para guru seolah telah melampaui bagian tersulit dari pembuatan RPP. Hal ini terjadi karena telah tergambar tujuan yang akan dicapai, proses pembelajaran yang akan dilaksanakan, dan penilaian yang akan digunakan untuk mengukur keberhasilan proses belajar siswa.

Rangkaian pembuatan rancangan pembelajaran bermuara pada RPP. Para guru menggunakan Silabus yang dibuatnya sendiri sebagai acuan untuk membuat RPP. Pada elemen langkah-langkah pembelajaran para guru menunjukkan kreativitas dan inovasi untuk merancang pembelajaran yang membuat para siswa berpikir kritis, berkolaborasi, dan tidak mengalami hambatan dalam mengomunikasikan apa yang dikuasainya. Sebagaian pembelajaran dirancang melampaui kompetensi dasar, namun sebagian lagi setara dengan kompetensi dasar yang diminta.

Dokumen yang dibuat oleh para guru melalui IHT ini merupakan upaya dan kolaborasi untuk mensukseskan program sekolah unggulan. Dari RPP yang dibuat oleh para guru akan dipilih dan ditetapkan oleh pihak kurikulum yang memenuhi syarat untuk dijadikan video pembelajaran.

Perjalanan menjadi sekolah unggulan bukan jalan mulus tanpa hambatan. Penyusunan RPP sepertinya terdengar hal biasa bagi para guru. Namun bagi guru SMAN 2 Cianjur hal ini luar biasa karena RPP harus menunjukkan integrasi 4C, Literasi dalam pembelajaran, HOTS, dan pembelajaran abad 21. Semoga upaya para guru SMAN 2 membuahkan hasil gemilang di masa mendatang.

Sumber : Badirah, M.Pd. (Guru Bahasa Inggris SMAN 2 Cianjur)

 

Comments

comments

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.