Badriah Yankie, Guru Berprestasi yang Konsisten Terapkan Self Learning dan Self Reflection

BANDUNG – Untuk mengimbangi perkembangan di era global, menguasai berbagai bahasa khususnya bahasa inggris adalah sebuah keharusan. Terlebih, digitalisasi yang semakin pesat menuntut diri agar terus update informasi pengetahuan terkini.

Badriah Yankie adalah salah satu guru berprestasi yang memiliki keahlian dalam berbahasa inggris. Siapa sangka, keahliannya ini bisa membawanya pada berbagai pengalaman berharga yang tak terlupakan. Dari salah satu dukungan keahliannya itu, Badriah pun berhasil meraih beberapa penghargaan. Diantaranya Guru Berprestasi Tingkat SMP tahun 2005, Guru Berprestasi SMA tahun 2015 tingkat Kabupaten, Provinsi, dan Nasional, Juara 1 Forum llmiah Guru 2013, menjadi pemateri di berbagai seminar nasional dan internasional untuk pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing, dan Penulis buku bertajuk “Serenada Adelaide”.

Hal itu diraihnya bukan tanpa sejarah yang berarti. Berawal dari pengalamannya sewaktu ia remaja, di kampong tempatnya tinggal ia melihat bahwa guru sangat dihormati. Dari setiap persoalan yang terjadi di masyarakat, gurulah yang akan memberi wejangan. Wejangan guru tersebut, didengar dan dilaksanakan.  Kemuliaan guru dalam tatanan masyarakat seolah melebihi orang kebanyakan. Beranjak saat ia menduduki bangku SMA, ia sudah memilih jurusan Bahasa Inggris karena Bahasa Inggris merupakan materi pembeda dari jurusan lain. Selama mengabdi menjadi guru, Badriah mengalami beberapa kendala yaitu kendala dalam pengaturan waktu antara mengajar dan menjadi ibu rumah tangga.

“Kendala yang saya hadapi adalah kelemahan saya sendiri yaitu pengaturan waktu. Saya menggunakan waktu hampir 24 jam untuk siswa saya. Saya bersedia membantu siswa tanpa membatasi waktu. Ini menjadi kendala ketika saya harus tampil sebagai istri, ibu, atau peran lain di luar guru,” ujarnya guru SMAN 2 Cianjur ini. 

Menurutnya, pengalaman yang  paling berkesan selama ia menjadi guru adalah ketika ia bisa menunjukkan kepada siswa, bagaimana silaturahmi antara guru dengan siswa membuat pelajarannya dapat dipahami. Tak hanya itu, silaturahmi juga bisa membawa kebaikan yang membuat para siswa terinspirasi bahwa ilmu dari seorang guru dapat dipahami jika kita hormat pada guru.

Dibalik kesuksesannya menjadi seorang guru, ia ternyata  menerapkan self learning. Metode tersebut dijalankan dengan tidak pernah berhenti membaca, dan menulis berdasarkan hasil bacaan, juga membaca berbagai hasil temuan para ahli tentang mengajar. Hal ini kemudian ia terapkan di kelas. Selain itu, ia pun melakukan self reflection  dengan melakukan analisis pada apa yang ia kerjakan melalui jurnal harian

Menurut Badriah, penerapan Dialog Jurnal adalah cara yang baik untuk diterapkan pada siswa. Hal ini dinilai menjadi salah satu best practice atau cara mengajar yang dianjurkan untuk diterapkan di sekolah, sebagai alat refleksi terhadap pembelajaran. Selain itu metode ini pun diyakini bisa memberikan kesempatan pada siswa, untuk menjadi literat. Salah satunya secara teratur berlatih menulis.  

“Pendidikan Indonesia harus menuju ke arah yang lebih baik. Semua orang harus ikut serta memajukan pendidikan seusai kemampuan dan perannya. Yang menjadi siswa, belajar sampai menjadi benar-benar menjadi seorang terpelajar. Yang menjadi guru, janganlah berhenti belajar, sehingga mampu mengimbangi perubahan paradigma pendidikan dan perkembangan sekolah, baik internal maupun eksternal,” tutupnya.  

sumber : http://disdik.jabarprov.go.id/index.php?r=site/news/id/42a0e188f5033bc65bf8d78622277c4e

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *